Seleksi Tahap 2 | Pengalaman bergelut di bidang ICT

Esai ini dibuat untuk melengkapi persyaratan seleksi tahap ke – 2  Beasiswa Yayasan Cendekia Milenia.

Alhamdulillah nih lolos seleksi pertama. Diseleksi kedua ini disuruh bikin esai. Walaupun kata-katanya ga baku, bisa ngungkapi dan berbagi tentang pengalaman diri. Semoga bermanfaat “.

Doain ya semoga lolos tahap seleksi berikutnya :D.

            Jika saya boleh berbagi pengalaman, dulu ketika saya duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) saya sangat buta dengan teknologi komputer. Sangat minim pengetahuan saya tentang komputer pada waktu itu. Namun, saya sering melihat dan mengamati kakak perempuan saya sedang asyik bermain dengan komputer jinjing ( laptop ). Bila ada waktu senggang saat kakak saya tidak menggunakan, muncul rasa ingin tahu saya untuk mencoba gadget tersebut. Kemudian diam-diam saya mencoba, program saya otak-atik, mulai dari berhasil menjalankan program, melakukan tamat pada game-game jadul ( jaman dulu ), memunculkan pesan error, hingga merusak sistem operasi laptop kakak saya. Tak letih sampai disitu, hal tersebut membuat saya ingin terus mencoba bermain dengan komputer. Mencari tahu sebab alasan bagaimana program komputer dapat berjalan. Singkat cerita ketika saya naik ke kelas dua SMP, ayah saya membuka usaha Warung Internet ( Warnet ). Namun, belum ada orang yang dipekerjakaan beliau untuk bekerja di warnet. Untuk itu, saya berniat untuk membantu usaha ayah saya, dan mengajukan diri menjadi operator warnet. Padahal, status saya belum expert dibidang operasional komputer seperti instalasi sistem operasi, konfigurasi jaringan komputer, dan penggunaan Office . Usulan untuk menjadi operator warnet diterima oleh ayah saya, dan saya diizinkan setelah pulang sekolah membantu ayah buka usaha warnet. Banyak hal yang terjadi, tak disangka, dan tidak diduga oleh saya pada waktu itu. Segilintir masalah di bidang IT pun mulai saya rasakan. Hal tersebut menjadi case tersendiri bagi saya, dan saya jadikan tantangan untuk belajar lebih. Semua masalah berusaha saya bedah sendiri. Diiringi dengan minimnya ilmu yang saya dapatkan ketika beranjak untuk menjadi orang yang fasih komputer, mau tidak mau dengan niat dan minat besar secara otodidak saya belajar dari nol. Salah satu media pembelajaran yang saya gunakan melalui sekolah google alias googling. Semua perangkat warnet saya pelajari, install dan test connection  satu-satu diantaranya Router, Switch, kabel LAN, dan PC.

                  Sebelum warnet ayah saya beroperasi, setiap harinya saya selalu memastikan semua komputer bekerja maksimal. Setiap kali itu juga saya sering merasakan tiga aspek besar pada sistem komputer yaitu hardware, software, dan brainware. Ternyata, ketiga aspek tersebut seharusnya dipelajari ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama ( SMA ) dan kuliah.

Dari pengalaman saya diatas, lantas memicu ketertarikan dan semangat saya untuk eksplorasi lebih jauh lagi tentang ilmu komputer. Lebih daripada itu, seiring perkembangan komputer yang telah merambah keaspek yang lebih luas dan kompleks lagi diantaranya Komunikasi Data, Cloud, Internet of Things, dan Big data. Awalnya coba-coba, sekarang menjadi hobi untuk saya berkecimpung di dunia Information Communications and Technology ( ICT ).

Ilmu memang mahal. Semua orang butuh ilmu, dan butuh bimbingan dari banyak orang yang sudah berpengalaman dibidang tertentu. Alasan saya mengejar ilmu dibangku kuliah karena Komputer. Saya pernah memiliki ambisi, saya ingin menuntut ilmu di Perguruan Tinggi ternama, misalnya Universitas Indonesia ( UI ). Sejak saya duduk di kelas 12 SMA, saya memiliki cita-cita ingin masuk ke UI Program studi Teknik Komputer. Dulu saya berfikir bahwa citra dan performa kampus UI sangat baik di masyarakat, dan jebolan UI pasti diterima kerja semua. Orang tua mana yang tidak bangga anaknya masuk Universitas Indonesia. Pada akhirnya, Allah SWT berkata lain, rezeki saya bukan di Universitas Indonesia. Patut saya syukuri saya diterima dan diberi kesempatan oleh Allah SWT menuntut ilmu di Politeknik Negeri Jakarta sejak tahun 2014 sampai sekarang.

Pilihan saya tetap bulat saat memilih Jurusan di tempat saya berkuliah saat ini yaitu, Komputer. Di Politeknik Negeri Jakarta saya menjadi mahasiswa  Jurusan Teknik Informatika dan Komputer, Konsentrasi Teknik Komputer dan Jaringan. Ketertarikan saya untuk belajar komputer, lebih dari sekedar hardware, software, ataupun network. Pada Konsentrasi yang saya pilih, secara dasar bidang-bidang ilmu komputer dipelajari dari mulai semester awal. Namun, ketika mahasiswa beranjak ke semester 6 pelajaran yang berkaitan dengan konsentrasi akan lebih menjurus yaitu Jaringan Komputer, Manajemen Jaringan, dan Keamanan Jaringan.

Sejatinya mata kuliah ilmu komputer di Perguruan Tinggi seluruh Indonesia, atau bahkan di belahan dunia sama saja. Yang membedakan hanyalah, sistem belajar, metode pengajaran pendidik, dan penyesuaian kurikulum terhadap kebutuhan pasar dan kerja. Ketika masih duduk di semester satu, saya sering membandingkan kampus saya sekarang dengan kampus tetangga ( Universitas Indonesia ). Acap kali saya memiliki niat untuk mengulang tes masuk perguruan tinggi. Namun, mindest atau pemikiran seperti itu sudah saya hilangkan. Seiring proses belajar di kampus, saya sadar kampus bukan faktor penentu kesuksesan karir saya. Untuk mencapai sukses balik ke diri sendiri. Khusus, dibidang IT dibutuhkan sebuah pengalaman berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk menjadi IT yang profesional.

Kampus hanyalah sebagai media belajar, tempat kita berinteraksi, dan membentuk karakter, selebihnya tinggal bagaimana mahasiswa memilih, berani survive, dan memiliki kemauan untuk belajar hal-hal baru.

Di lingkungan sekitar saya, banyak orang-orang yang tidak memiliki latar belakang IT tetapi mereka menguasai teknik-teknik komputer, membuat aplikasi, dan juga desain digital. Hal tersebut dapat terjadi apabila ada konsistensi untuk belajar. Pun ketika saya kuliah  yang secara substansi mempelajari IT tidak wajib menguasai seluruh ilmu-ilmu komputer. Hanya saja, saya dan mahasiswa lain disarankan agar mengetahui bagian-bagian dari materi ilmu komputer keseluruhan, minimal dasar-dasarnya. Apasaja bagian-bagian yang ingin difokuskan kembali pada individu masing-masing.

Teori tanpa praktik tidak valuenya bagi seorang IT. Sebanyak-banyak buku IT yang dibaca tanpa dipraktikan hasilnya nihil. Tetapi tidak menyepelekan teori-teori dasar. Teori dan praktik harus seimbang.

Untuk mengasah kompetensi IT saya tidak cukup dibangku kuliah. Saya membutuhkan sharing knowledge dengan mahasiswa lain, senior yang berpengalaman dan berkompetisi di bidang IT. Selama kuliah, saya sering menargetkan untuk bisa ikut lomba bersama teman-teman kelas. Menang kalah menjadi urusan belakang. Yang terpenting adalah take a action dan experience , dan jaringan yang didapat. Alhamdulillah, keikutsertaan saya pada lomba pertama,  yaitu pada tahun 2015 lalu di ajang Computer Festival ( ComFest ) yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Komputer Indonesia membawa saya berhasil masuk ke 10 besar finalis bidang Internet Of Things Academy ( IOT ).

Awalnya memang saya ikut lomba tersebut, bukan karena menginginkan hadiah. Tetapi karena bidang IoT masih sangat baru di Indonesia. Learning by Competition. Jika saya lolos, saya akan berkompetisi sekaligus belajar menekuni ilmu dibidang Internet of Things. IoT memiliki prospek yang menjanjikan untuk perkembangan industri IT di Indonesia. Semua kesempatan saya manfaatkan sebaik-baiknya, materi dari pembicara, diskusi dengan tim lain, dan memulai mempelajari hal yang sebelumnya saya tidak tahu menjadi tahu. Berkat kompetisi tersebut, saya mengenal istilah smart home, smart class, dan sesuatu yang berbau smart berbasis mikrokontroler dan website. Setiap orang bisa mengendalikan, memonitoring dan mentracking sesuatu lewat satu media berbasis internet. Outuput dari kegiatan tersebut, saya pun  bisa menjadi Junior Developer yang bisa mengembangkan produk IoT, dengan judul produk Smart Zoo.

Pada kesempatan ajang kompetisi IoT dua tahun lalu telah membuka pikiran saya. Banyak tim-tim yang memang sudah tahu dan menguasai produk-produk teknologi yang terintegrasi IoT contohnya Mikrokontroler Intel Galileo, Esp8266 ( Wifi ), platform IoT berbasis web, API programming, dan beberapa Bahasa pemrograman yang mendukung sistem IoT. Terkadang, waktu itu membuat saya pribadi minder. Tetapi, bukan itu yang menjadi masalah saya. Jelas, hal tersebut menjadi picuan dan kejutan bagi saya. Membuat saya lebih sadar lagi, teknologi semakin sangat pesat, eranya bukanlah anak-anak muda hanya sebagai konsumen atau pengguna produk IT dari luar. Dari situ saya belajar banyak dengan tim-tim lain, brainstorming, betukar pendapat tentang perkembangan ICT di Indonesia. Tidak sebatas IoT saya, tetapi saya dan teman-teman juga senang membicarakan tentang startup, cloud computing, dan future of IT lainnya.

Ide yang saya bawakan pada kompetisi IoT tentang SMART ZOO. Ide tersebut berawal dari pengalaman saya menonton cuplikan video, ada seorang anak yang sedang asyik melihat kandang Panda di salah satu kebun binatang di luar negeri. Kemudian, si anak tersebut pun terus mendekati Panda sampai melewati pagar pembatas. Mungkin si anak tersebut tidak menghiraukan teks peringatan yang terpasang di Pagar tersebut. Akhirnya, anak tersebut pun jatuh ke kandang Panda. Menurut pengamatan saya, sistem kebun binatang saat ini masih manual dan belum memiliki indikator peringatan bahwa pengunjung kebun binatang tidak diperbolehkan mendekati pagar pembatas, apalagi naik keatas pagar. Alasan lain, saya menciptakan SMART ZOO ialah kebun binatang dapat dikelola secara lebih efisien dan efektif melalui fitur monitoring dan tracking pada setiap kandang. Sistem SMART ZOO membantu petugas atau pengelola kebun binatang dalam memonitoring keadaan kandang hewan, dan lingkungan sekitar kandang. Sehingga keberlangsungan kualitas hidup hewan akan tercipta dengan sangat baik. Untuk mewujudkan hal tersebut, saya dan tim merancang bangun prototype SMART ZOO berbasis aplikasi mobile dan web dan sensor-sensor elektronik.

Selang beberapa bulan setelah acara IoT Academy saya mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang PKM GT. Sesuai bidang saya di Teknik Komputer dan Jaringan saya mengusulkan sebuah ide tentang cara memberantas dan membunuh nyamuk melalui teknologi yaitu Mocker ( Mosquito Detector and Killer ) sebagai teknologi cerdas pendeteksi dan pembunuh nyamuk. Solusi yang saya tawarkan lewat ide tersebut ialah membuat suatu teknologi cerdas pendeteksi dan pembunuh nyamuk yang terdiri dari alat elektronika yaitu mikrokontroler arduino yang terkoneksi dengan smartphone berbasis sistem operasi Android. Dengan kombinasi teknologi mikrokontroler single-board Arduino dan Android informasi keberadaan nyamuk sebagai vektor demam berdarah dapat diketahui. Teknologi ini juga dilengkapi dengan sensor ultrasonik, dan suara untuk pendeteksian. Berkat gagasan ide yang saya tersebut, tim saya berhasil lolos tahap pendanaan PKM GT tahun 2016.

Berdasarkan pengalaman lomba yang telah saya paparkan, saya menangkap sebuah benang merah, dan menyadari betul bahwa setiap mahasiswa atau anak muda lainnya  dengan mudah ikut lomba dan menang. Namun, yang sulit dan menjadi tantangan adalah memberi pengaruh kepada orang lain agar bisa menjadi diri kita, dan memberikan dampak dari hasil ide kemenangan kita pada banyak orang. Untuk itu, saya pribadi jauh lebih bahagia apabila produk yang saya ciptakan betul-betul bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan tidak sebatas untuk kriteria penilaian kompetisi semata.

Tak cukup hanya ikut seminar, dan lomba yang sifatnya tidak berkelanjutan. Keberadaan saya sebagai mahasiswa IT ingin membangun produk yang memiliki nilai, manfaat, dan juga sebagai Konsultan IT untuk orang-orang ataupun perusahaan. Saya ingin menjadikan diri saya sebagai lebih dari penjelajah, atau hanya sebagai pemakai teknologi.

Berkaitan dengan hal itu, saya menemukan sebuah riset dari International Data Corporation ( IDC ) yang mengumumkan transformasi digital akan terjadi di Indonesia. Transformasi digital yang diprediksikan diantaranya pada tahun 2019 perusahaan IT di Indonesia 50 persen beralih ke bisnis digital dan teknologi cloud akan menjadi infrastruktur utama perusahaan, tahun dan pemerintah lokal dan daerah di Indonesia akan menggunakan Internet of Things ( IoT ) untuk mengubah infrakstruktur publik, 2020 setiap perusahaan akan open innovation, tahun 2018 online ambassadors dan social media influencers akan menguasai pasar digital di Indonesia. Di tahun 2017 ini beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta telah memanfaatkan ICT untuk open data pemerintahan.

Tentu, untuk memanfaatkan momentum tersebut sekaligus mengambil peluang menjadi pemimpin industri di negeri sendiri dibutuhkan jiwa inovatif, enterpreneurship dan kepemimpinan TI  yang baik. Saya memiliki komitmen melalui skill saya di bidang IT saya ingin berfokus membuat inovasi usaha IT yang berdaya guna bagi masyarakat Indonesia. Visi saya kedepan, melalui rintisan startup yang akan saya bangun saya ingin membuka lapangan pekerjaan bagi penggiat teknologi. Dan, saya ingin berbagi kepada mereka bahwa Indonesia memang menjadi Pasar yang besar bagi produk-produk digital dari luar. Namun, mindset dan langkah kita sebagai konsumen tidak terus-menerus tertanam. Saya ingin bersama anak muda lainnya menjadi creator, developer, dan founder.

Setiap perusahaan IT saat ini baik pemula ( startup ), UKM, maupun yang sudah Tbk memiliki daya saing yang tinggi , untuk itu dibutuhkan pula teknologi dan manajemen. Antara eksekusi teknologi dan manajemen menjadi hal dasar pembangunan ICT. Butuh keahlian, waktu, tenaga, uang, dan pikiran untuk memulai dan membangun setiap usaha yang akan dijalankan. Jika mengandalkan pembelajaran selama dikampus saya rasa kurang. Dibutuhkan konsistensi dan komitmen untuk menjelajah ilmu ke dunia luar kampus, mencari pengalaman, dan menjalin relasi dengan orang-orang yang ahli dibidangnya.

Pada kesempatan mengikuti beasiswa dari  saya ingin manfaatkan kesempatan untuk dapat uang untuk menunjang proses perkuliahan saya, lanjut ke S2 Jurusan Teknik Industri, mencari partner yang cocok dan sevisi untuk membangun usaha.  Melalui beasiswa ini Insya Allah dapat menjadi mediator saya untuk terus mengembangkan diri dan maju di Industri Digital Indonesia. Hal yang lebih penting bagi saya adalah pelatihan atau ilmu yang nantinya diberikan oleh Yayasan ataupun pihak penyelenggara dan bertemu dengan orang-orang baru. Tentu, hal tersebut dapat menjadi jembatan sekaligus saya untuk terus maju dan berkarya.

Saya memiliki beberapa sistematika dalam membangun suatu ide produk atau usaha ( startup ) yang relevan dengan pencapaian saya untuk berkarir di ranah ICT . Berikut sistematika berfikir yang saya rumuskan, yaitu :

  1. Cari Masalah

Semua orang pasti memiliki ide. Tetapi, apakah ide-ide tersebut dapat menyelesaikan permasalahan disekitar ?. Di era sekarang, seperti kota Jakarta misalnya butuh solusi melalui ide-ide anak muda di Jakarta yang memiliki keunikan, relevan, dan realistis. Dan, diiringi rasa empati yang tulus untuk membantu menyelesaikan permasalahan.

  1. Petakan dan Wujudkan Ide

Setelah ide-ide terkumpul, kita dapat memilah dan memetakan mana ide-ide yang substain serta memiliki visi jangka pendek atau panjang untuk diterapkan. Alangkah baiknya ide yang tercipta mampu menyelesaikan masalah yang terjadi saat ini dulu tanpa harus menghilangkan ide-ide untuk masa depan.

  1. Validasi

Cara yang paling efektif dan efisien untuk memvalidasi ide adalah survey dan bandingkan ide kita dengan ide sebelumnya yang sudah berhasil diterapkan atau belum. Kemudian, kita bisa meminta setiap orang untuk mengisi pendapat mereka baik melalui wawancara langsung ataupun kuisioner terkait ide yang akan kita terapakan di masyarakat.

  1. Buat prototype

Selesai tahap validasi, terapkan prinsip ujicoba melalui prototype ( rancangan awal ) produk dari ide-ide yang ingin dibuat. Hal ini bukan harus dilewati, justru bagian terpenting untuk melihat kesesuaian, kekurangan dan perkembangan lain produk sebelum membangun yang siap digunakan ( fixed product ) untuk masyarakat luas.

  1. Evaluasi

Untuk tahap ini tidak kalah penting. Seberapa sempurnanya suatu produk pasti memiliki kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki. Biasanya dengan cara ini saya meminta beberapa orang untuk mengetes produk saya, kemudian meminta evaluasi dan masukan oleh mereka.

  1. Buat ulang prototype

Setelah evaluasi, setiap developer menemukan bug untuk diperbaiki. Demi menyempurnakan produk yang ingin diterapakan ke publik. Tahap re-protoype berguna untuk memastikan produk yang dibuat benar-benar siap di perkenalkan dan digunakan banyak orang.

  1. Launching

Pada tahap ini, setiap founder atau developer dapat mempublikasi dan melakukan testing kembali kepada pengguna-pengguna sebelumnya. Meminta pendapat dan respon mereka. Bagikan kepada pengguna lain hingga mencapai target pengguna. Keberhasilan menjalani progress dalam tahapan ini juga ditentukan dengan pemasaran dan cara founder memperkenalkan produk ke user.

Sistematik yang saya jelaskan diatas juga dapat dilakukan oleh individu atau kelompok yang ingin merealisasikan ide-idenya menjadi sebuah produk yang diterima oleh pasar. Sebelumnya, sistematika tersebut saya pelajari dari konsep design thingking dan sangat cocok untuk saya terapkan. Semua itu kembali ke metode orang masing-masing dalam mengembangkan produk-produk yang ingin diciptakan.

Bahkan, saat ini cukup banyak framework, siklus, dan metode yang telah dibuat oleh inovator-inovator di dunia.Mungkin, pemikiran seperti itu tidak terlalu teknis bagi seorang programmer atau developer. Namun, hal tersebut dapat menjadi parameter kesuksesan produk yang akan dirancang. Tentunya, sebagai jembatan juga untuk memudahkan developer dalam mulai membangun e-commerce, marketplace, produk IoT, program aplikasi, dan lain sebagainya.

Tidak banyak teman-teman dikampus saya mengetahui hal seperti itu, khususnya dikalangan programmer. Mereka hanya mengetahui hal-hal teknis tentang pemrograman. Secara pribadi, saya tidak ingin seperti itu. Empati, Ide, dan Eksekusi. 3 hal yang akan siap saya terapkan di dunia ICT untuk menjadi seorang Teknopreneur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s